Selasa, 12 Maret 2013

ARTI SEORANG IBU ..

Ayo kita Renungkan..


Dhebunnewwae@yahoo.co.id
Ideycaprio@gmail.com

Ma ..Menta duit atu lahh.......
Ma..Hayang dahar ....
Ma.. Hayang meli baju lebaran ...
Ma............
Arti seorang Ibu? Apa jawaban kalian ? sebelum dijawab aku mau cerita dulu nih,,, he..
Kalou aku mendengar kata Ibu,aku pasti teringat kepada Ibuku yang telah lama meninggal.Beliau meninggal sekitar 4 tahun yang lalu,waktu aku masih sekolah.Betul juga apa kata Bung Hj Rhoma Irama dalam lagunya

"Kalou sudah tiada baru terasa
Bahwa kehadirannya sungguh berharga"

yah jadi nyanyi deh ,,hee .Aku sangat kehilangan beliau apalagi rasa menyesal yang menghantui karena dulu aku durhaka kepadanya atau "NGAWAWAKEUN" kata orang sunda mah.Aku dulu tidak berbakti dan tidak menjadi anak yang soleh malah menjadi anak durhaka.Makanya bagi kalian yang masih punya Ibu minta maaflah segera dan minta Ridho kepadanya,Karena ridho Tuhan ada pada ridho Orangtua.
Masih ingat sekali ketika beliau masih ada,karena aku anak paling bungsu aku sering dipanggil Ucu ,,

"Ucu deudeuh teuing anak ema pangholeng-holengna" sambil ditimang-timang ,,hehe sori ya curhat nih ..
kalian juga mungkin masih ingat waktu di timang-timang.

" Neng nelengnengkung gera gde gera jangkung
gera nalang ka indung ..lupa laii "
Apa Ibu kalian masih ada ?
Apa kalian pernah menangis meminta maaf kepadanya?
Apa kalian sudah meminta Ridho kepadanya?
ayo lakukan ,,sebelum tiada ,nanti menyesal seperti aku sekarang ini .



 Ibu adalah orang yang telah mengandung dan melahirkan kita.Itu jawaban yang benar ,tetapi jawabannya tidak sebatas itu mungkin.Kamu juga mungkin punya jawabannya sendiri yang berbeda.Pernahkah kalian pikirkan bahwa kita sudah terlalu mengabaikan bahkan keterlaluan kepada Orangtua kita.Kita akan mencintai pacar kita melebihi cinta kita kepadanya itu salah.Kita akan mengabaikannya demi pacar,teman dan kegemaran kita.Kita tak pernah merenungkan dan membayangkan ketika kita dikandung,dilahirkan ,dan dibesarkan.Apakah kita sudah membalasnya hah? membalas dengan apa? sepertinya kita tak akan pernah bisa membalasnya kecuali mendo'akannya.

" Allahummagfirlii waliwalidayya warhamhuma kamaa Robbayanii Sogiiro"

kepada pacar ,teman atau oranglain mungkin kita akan bebicara rada sopan tetapi kadang kita berbicara kepada Ibu kita seenaknya saja.
ketika Ibu kita menyuruh

Ibu : "Jang ..Pang ka Warungken ! "
Aku : "Kehela atuh ah "

Astagfirullah...Tobat Gusti.
tapi ketika Pacar nelepon

Pacar : "Yang jemputt ih di skull nya,,"
Kamu: (brebet nyokot konci motor) "ok sayang tunggu ea"

yah lebayy ,,, Ketika Ibu kita bertanya

Ibu: "Jang iraha rek solat ges buritt "
Aku: heeh kehela atuh da kagok"

 nah kalou ngomong sama oranglain aja sopan ,so baik ,so lugu ,so rajin ,so ramah ..wew akh .







Sumber: 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) - Dr. Muhammad Faiz Almath - Gema Insani Press
Ayah - Ibu - Anak - Keluarga

1. Keridhaan Allah tergantung kepada keridhaan kedua orang tua dan murka Allah pun terletak pada murka kedua orang tua. (HR. Al Hakim)

2. Seorang datang kepada Nabi Saw. Dia mengemukakan hasratnya untuk ikut berjihad. Nabi Saw bertanya kepadanya, "Apakah kamu masih mempunyai kedua orangg tua?" Orang itu menjawab, "Masih." Lalu Nabi Saw bersabda, "Untuk kepentingan mereka lah kamu berjihad." (Mutafaq'alaih)

Penjelasan:
Nabi Saw melarangnya ikut berperang karena dia lebih diperlukan kedua orang tuanya untuk mengurusi mereka.

3. Rasulullah Saw pernah berkata kepada seseorang, "Kamu dan hartamu adalah milik ayahmu." (Asy-Syafi'i dan Abu Dawud)

Keterangan:
Terdapat satu riwayat yang cukup panjang berkaitan dengan hal ini. Dari Jabir Ra meriwayatkan, ada laki-laki yang datang menemui Nabi Saw dan melapor. Dia berkata: "Ya Rasulullah, sesungguhnya ayahku ingin mengambil hartaku ...." "Pergilah Kau membawa ayahmu kesini", perintah beliau. Bersamaan dengan itu Malaikat Jibril turun menyampaikan salam dan pesan Allah kepada beliau. Jibril berkata: "Ya, Muhammad, Allah 'Azza wa Jalla mengucapkan salam kepadamu, dan berpesan kepadamu, kalau orangtua itu datang, engkau harus menanyakan apa-apa yang dikatakan dalam hatinya dan tidak didengarkan oleh teliganya. Ketika orang tua itu tiba, maka nabi pun bertanya kepadanya: "Mengapa anakmu mengadukanmu? Apakah benar engkau ingin mengambil uangnya?" Lelaki tua itu menjawab: "Tanyakan saja kepadanya, ya Rasulullah, bukankah saya menafkahkan uang itu untuk beberapa orang ammati (saudara ayahnya) atau khalati (saudara ibu) nya, atau untuk keperluan saya sendiri?"
Rasulullah bersabda lagi: "Lupakanlah hal itu. Sekarang ceritakanlah kepadaku apa yang engkau katakan di dalam hatimu dan tak pernah didengar oleh telingamu!" Maka wajah keriput lelaki itu tiba-tiba menjadi cerah dan tampak bahagia, dia berkata: "Demi Allah, ya Rasulullah, dengan ini Allah Swt berkenan menambah kuat keimananku dengan ke-Rasul-anmu. Memang saya pernah menangisi nasib malangku dan kedua telingaku tak pernah mendengarnya ..." Nabi mendesak: "Katakanlah, aku ingin mendengarnya." Orang tua itu berkata dengan sedih dan airmata yang berlinang: "Saya mengatakan kepadanya kata-kata ini: 'Aku mengasuhmu sejak bayi dan memeliharamu waktu muda. Semua hasil jerih-payahku kau minum dan kau reguk puas. Bila kau sakit di malam hari, hatiku gundah dan gelisah, lantaran sakit dan deritamu, aku tak bisa tidur dan resah, bagai akulah yang sakit, bukan kau yang menderita. Lalu airmataku berlinang-linang dan meluncur deras. Hatiku takut engkau disambar maut,
padahal aku tahu ajal pasti akan datang. Setelah engkau dewasa, dan mencapai apa yang kau cita-citakan, kau balas aku dengan kekerasan, kekasaran dan kekejaman, seolah kaulah pemberi kenikmatan dan keutamaan. Sayang..., kau tak mampu penuhi hak ayahmu, kau perlakukan daku seperti tetangga jauhmu. Engkau selalu menyalahkan dan membentakku, seolah-olah kebenaran selalu menempel di dirimu ..., seakanakan kesejukann bagi orang-orang yang benar sudah dipasrahkan.' Selanjutnya Jabir berkata: "Pada saat itu Nabi langsung memegangi ujung baju pada leher anak itu seraya berkata: "Engkau dan hartamu milik ayahmu!" (HR. At-Thabarani dalam "As-Saghir" dan Al-Ausath).


Semoga Bermanfaat.




ASSALAMUALAIKUM WAROHMATULLOHIWABAROKATUH..


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar